Diposting oleh
El-F@ta
/ 16.02 /
ASAL USUL ILMU NAHWU
Di Posting Oleh : Al-Baqier
Sebab musabab Abul Aswad mengarang ilmu nahwu yaitu ketika beliau brsama putrinya sedang bercengkrama di depan teras rumah sambil menikmati panorama malam yang penuh dengan gemerlapnya bintang. Saat itulah sang putri berkata kepadanya “ “
( dengan maksud alangkah indahnya langit diatas sana ) ucapan sang putri ini dijawab oleh beliau “ yang membuat indahnya langit adalah bintang gemintang yang bertaburan” mendengar jawaban ini putrinaya merasa heran lalu berkata “ wahai ayahku, bukan itu yang ananda maksudkan tapi yang nanda maksud adalah kekaguman akan keindahan langit” perkataan sangputri ini menjadikan abul aswad mengerti akan maksud yang sebenarnya yang dikehendaki putrinya, karena sebelumnya abul aswad menyangka bahwa sang putri betanya tentang hal yang membuat indahnya langit. Kemudian dengan penuh kasih sayang beliau menegur putrinya yang tercinta :”jika yang kamu kehendaki adalah kekaguman tentang keindahan langit maka katakanlah “Ma Ahsana Assamaa “ dengan menfathahkan nunnya lafadz “Ma Ahsanus Samaa“.
Keesoakan harinya abul aswad pergi kerumahnya Sayyidina Ali untuk menyampaikan peristiwa semalam yang dialami oleh putrinya, dengan penuh rasa hormat beliau berkata : “ Wahai Amirul mukminin, telah terjadi pada diri putri hamba suatu hal yang hamba tidak mengerti, mungkin Amirul mukminin bisa memberikan jalan keluarnya.”kemudian Orang yang pertama kali menyusun Ilmu Nahwu adalah Syeikh Abul Aswad, beliau hidup semasa kekhalifahan Sayyidina Ali.
beliau menceritakan prihal perkataan putrinya semalam. Mendengar ceria ini Sayyidina Ali berkata :” ketahuilah wahai Abul Aswad, semua itu terjadi karena percampuran bahasa Arab dan bahasa asing (‘ajam) setelah itu beliau memerintahkan kepada Abul Aswad agar membeli selembar keratas. Selang beberapa hari kemudian Sayyidina Ali mengajarkan tentang Qoidah-qoidah lughot arab kepada Abul Aswad beliau menyuruh agar Abul Aswad mencatatnya. Yang pertama kali beliau ajarkan adalah masalah pembagian kalam yang jumlahnya ada tiga bagian yaitu : Isim, Fiil, dan Huruf. Kemudian beliau menjelaskan tentang jumlah yang menjadi sighot ta’ajub. Setelah itu sayyidina Ali memerintahkan kepada Abul Aswad agar mencari contoh-contoh lain yang sama dengan apa yang diajarkan oleh beliau. Dari sinilah ilmu ini kemudian dinamakan ilmu nahwu yang artinya contoh atau misal.
Sumber : muuqoddimah mukhtasor jiddan
Di Posting Oleh : Al-Baqier
Sebab musabab Abul Aswad mengarang ilmu nahwu yaitu ketika beliau brsama putrinya sedang bercengkrama di depan teras rumah sambil menikmati panorama malam yang penuh dengan gemerlapnya bintang. Saat itulah sang putri berkata kepadanya “ “
( dengan maksud alangkah indahnya langit diatas sana ) ucapan sang putri ini dijawab oleh beliau “ yang membuat indahnya langit adalah bintang gemintang yang bertaburan” mendengar jawaban ini putrinaya merasa heran lalu berkata “ wahai ayahku, bukan itu yang ananda maksudkan tapi yang nanda maksud adalah kekaguman akan keindahan langit” perkataan sangputri ini menjadikan abul aswad mengerti akan maksud yang sebenarnya yang dikehendaki putrinya, karena sebelumnya abul aswad menyangka bahwa sang putri betanya tentang hal yang membuat indahnya langit. Kemudian dengan penuh kasih sayang beliau menegur putrinya yang tercinta :”jika yang kamu kehendaki adalah kekaguman tentang keindahan langit maka katakanlah “Ma Ahsana Assamaa “ dengan menfathahkan nunnya lafadz “Ma Ahsanus Samaa“.
Keesoakan harinya abul aswad pergi kerumahnya Sayyidina Ali untuk menyampaikan peristiwa semalam yang dialami oleh putrinya, dengan penuh rasa hormat beliau berkata : “ Wahai Amirul mukminin, telah terjadi pada diri putri hamba suatu hal yang hamba tidak mengerti, mungkin Amirul mukminin bisa memberikan jalan keluarnya.”kemudian Orang yang pertama kali menyusun Ilmu Nahwu adalah Syeikh Abul Aswad, beliau hidup semasa kekhalifahan Sayyidina Ali.
beliau menceritakan prihal perkataan putrinya semalam. Mendengar ceria ini Sayyidina Ali berkata :” ketahuilah wahai Abul Aswad, semua itu terjadi karena percampuran bahasa Arab dan bahasa asing (‘ajam) setelah itu beliau memerintahkan kepada Abul Aswad agar membeli selembar keratas. Selang beberapa hari kemudian Sayyidina Ali mengajarkan tentang Qoidah-qoidah lughot arab kepada Abul Aswad beliau menyuruh agar Abul Aswad mencatatnya. Yang pertama kali beliau ajarkan adalah masalah pembagian kalam yang jumlahnya ada tiga bagian yaitu : Isim, Fiil, dan Huruf. Kemudian beliau menjelaskan tentang jumlah yang menjadi sighot ta’ajub. Setelah itu sayyidina Ali memerintahkan kepada Abul Aswad agar mencari contoh-contoh lain yang sama dengan apa yang diajarkan oleh beliau. Dari sinilah ilmu ini kemudian dinamakan ilmu nahwu yang artinya contoh atau misal.
Sumber : muuqoddimah mukhtasor jiddan

0 komentar:
Posting Komentar